Sunday, 10 November 2019

MEMBASUH


Fitrah manusia yang selalu ingin mengharap balasan dari kebaikannya tak dapat terelakkan. Kita sebagai manusia tak pernah memberikan sesuatu dengan seratus persen ikhlas. Kita memberi, mengasihi, mencintai hanya karena kita ingin mendapat suatu balasan atas perbuatan kita. Balasan, keuntungan pribadi, kemasyhuran merupakan satu-satunya yang kita inginkan, memberi merupakan omong kosong tanpa pemberian. Balasan itu yang selama ini kita nanti ‘kan? Bukankah keuntungan pribadi yang ingin kita raih? Bukankah, yang ada di pikiran kita hanya pamrih?

Hidup bukanlah, Perihal mengambil yang kau tebar, disini merupakan kontemplasi dari dunia yang saat ini tidak baik-baik saja. Kita diajak untuk tanpa pamrih melakukan kebaikan, meskipun tak selalu bisa, paling tidak sudah berusaha sedikit saja, memberi, mengasihi, mencintai. Karena kebaikan akan melahirkan kebaikan lainnya, hidup tidak melulu untuk menuai apa yang kita tanam, mungkin yang kita tanam akan dinikmati orang lain, itulah kebaikan. Kebaikan yang ikhlas akan memberi kebermanfaatan, bukan untuk kepentingan kita seorang, tapi untuk kebaikan-kebaikan selanjutnya.

Sedikit air yang kupunya, Milikmu juga bersama
 @tsabit menyebut ini sebagai “dimensi magis penulisan lirik ini bukan main-main”. Mengajak kita untuk merelakan, meskipun hal tersebut merupakan satu-satunya yang kita tersisa yang kita punya, namun lirik ini mencoba mengajak kita untuk mawas diri, selalu berbaik hati pada orang lain memberikan secara penuh apa yang kita punya untuk kebaikan meskipun kita serba kekurangan. Karena sedikit yang kita punya, mungkin merupakan hal terbesar yang dibutuhkan orang lain.

Kita diajak berpikir untuk merenungkan kembali, sebagai manusia apa sebenarnya tujuan hidup kita? Memang, seringkali apa yang telah kita usahakan menuai kegagalan, kebaikan yang kita lakukan dibalas tidak dengan kebaikan. Lalu mulai berpikir, “Ah berhenti saja jadi orang baik!”, menjadi egois untuk diri sendiri, untuk apa berbuat baik kalau justru akan menyakiti hati, kalau yang didapatkan hanya antipati!

Lirik Kita bergerak dan bersuara. Berjalan jauh, tumbuh bersama layaknya pribahasa “Jika kau ingin berjalan cepat, jalanlah sendiri, tapi jika ingin berjalan jauh, jalanlah bersama”. menuntun kita bahwa kebahagiaan dan keberhasilan bukan tercipta dari diri sendiri, ada andil yang kita dapat dari orang yang kita sayangi, dari orang yang entah dari mana datangnya.

Sempatkan pulang ke beranda dimaknai sebagai ibadah dan doa kepada Tuhan pencipta kehidupan. Seringkali kita merasa telah menjadi orang baik, menjadi orang yang telah banyak membantu sesama dan melupakan dari mana kita berasal. Melupakan andil orang disekitar kita, melupakan Tuhan, hidup dan kehidupan-Nya, sampai lupa harga hidup yang Tuhan berikan.

Saat kita kotor, penuh dosa apakah kita masih tetap bisa memberi?
Saat kita hampir mati(membiru), apakah kita tetap bisa mengobati-membantu sesama?
Apakah disaat paling buruk sekalipun kita tetap bisa berguna bagi orang di sekelilig kita?
Apakah kita rela?

Disinilah ‘Tuk mencatat hidup dan harganya dijawab, dengan pertanyaan, makna hidup untuk memberi apakah sudah kamu catat? Apakah sudah bisa memaknai bahwa esensi hidup adalah memberi, bukan kepentingan diri?

Ditimpali dengan Cukup besar ‘tuk mengampuni, ‘Tuk mengasihi, Tanpa memperhitungkan masa yang lalu yang bermakna bahwa inilah proses hidup untuk menjadi manusia tanpa dendam, memberi dan terus memberi, tanpa hitungan materi, apapun yang terjadi setelahnya, apapun yang terlewat sebelumnya.

Walau kering, Bisakah kita tetap membasuh?
Mem.ba.suh v mencuci(membersihkan) dengan air

Seni dalam memberi tiu adalah tanpa berharap kembali
Hal tersebut seperti analogi
Jika kita memberi 1 dan berharap kembali 1, 1 dibagi 1 = 1,yang kita dapat adalah 1.
Jika kita memberi 1 dan berharap kembali 2, maka yang kita dapat adalah setengah, disini terkadang kita merasa kecewa
Namun, apabila kita memberi 1 dan tak berharap kembali (0), maka yang kita dapat tak terhingga (infinite)

Memberi tanpa berekspektasi adalah nikmat dan ketenangan bagi diri
Air yang ada di pegunungan, di hulu tidak disimpan sendiri namun dialirkan ke hilir, mengaliri setiap tumbuhan agar dapat bermanfaat bagi lingkungan.
Tanpa takut kehabisan air.

Mengering sumurku, Terisi kembali
Bahwa terkadang kita memberi juga karena kita bisa hidup, kita bisa memberi karena telah menerima pemberian.
Disitulah makna hidup, Kutemukan Makna hidupku di sini
Teruslah memberi tanpa hitungan materi, apapun yang terjadi setelahnya, apapun yang terlewat sebelumnya.

Mungkin tidak bisa ikhlas sepenuhnya, tapi
مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ

Yang tak dapat kau peroleh semuanya, jangan kau tinggalkan seluruhnya.


TERIMAKASIH, TERIMAKASIH BANYAK! WHAT A SONG!



Hindia – Membasuh

Selama ini
Kunanti
Yang kuberikan datang berbalik
Tak kunjung pulang
Apa pun yang terbilang
Di daftar pamrihku seorang

Telat kusadar hidup bukanlah
Perihal mengambil yang kau tebar
Sedikit air yang kupunya
Milikmu juga bersama

Bisakah kita tetap memberi
Walau tak suci?
Bisakah terus mengobati
Walau membiru?
Cukup besar ‘tuk mengampuni
‘Tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Walau kering
Bisakah kita tetap membasuh?

Kita bergerak dan bersuara
Berjalan jauh, tumbuh bersama
Sempatkan pulang ke beranda
‘Tuk mencatat hidup dan harganya

Bisakah kita tetap memberi
Walau tak suci?
Bisakah terus mengobati
Walau membiru?
Cukup besar ‘tuk mengampuni
‘Tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Walau kering
Bisakah kita tetap membasuh?

Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
Makna hidupku di sini

Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
Makna hidupku di sini

Bisakah kita tetap memberi
Walau tak suci?
Bisakah terus mengobati
Walau membiru?
Cukup besar ‘tuk mengampuni
‘Tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Walau kering
Bisakah kita tetap membasuh?
Membasuh

Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
Makna hidupku di sini
Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
Makna hidupku di sini

Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
Makna hidupku di sini

Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
Makna hidupku di sini

Share This:    Facebook Twitter

0 comments:

Post a Comment