Fitrah manusia yang selalu ingin
mengharap balasan dari kebaikannya tak dapat terelakkan. Kita sebagai manusia
tak pernah memberikan sesuatu dengan seratus persen ikhlas. Kita memberi,
mengasihi, mencintai hanya karena kita ingin mendapat suatu balasan atas
perbuatan kita. Balasan, keuntungan pribadi, kemasyhuran merupakan satu-satunya
yang kita inginkan, memberi merupakan omong kosong tanpa pemberian. Balasan itu
yang selama ini kita nanti ‘kan? Bukankah keuntungan pribadi yang ingin kita
raih? Bukankah, yang ada di pikiran kita hanya pamrih?
Hidup bukanlah, Perihal mengambil yang kau tebar, disini merupakan
kontemplasi dari dunia yang saat ini tidak baik-baik saja. Kita diajak untuk
tanpa pamrih melakukan kebaikan, meskipun tak selalu bisa, paling tidak sudah
berusaha sedikit saja, memberi, mengasihi, mencintai. Karena kebaikan akan
melahirkan kebaikan lainnya, hidup tidak melulu untuk menuai apa yang kita
tanam, mungkin yang kita tanam akan dinikmati orang lain, itulah kebaikan.
Kebaikan yang ikhlas akan memberi kebermanfaatan, bukan untuk kepentingan kita
seorang, tapi untuk kebaikan-kebaikan selanjutnya.
Sedikit air yang kupunya, Milikmu juga bersama @tsabit menyebut ini
sebagai “dimensi magis penulisan lirik ini bukan main-main”. Mengajak kita
untuk merelakan, meskipun hal tersebut merupakan satu-satunya yang kita tersisa
yang kita punya, namun lirik ini mencoba mengajak kita untuk mawas diri, selalu
berbaik hati pada orang lain memberikan secara penuh apa yang kita punya untuk
kebaikan meskipun kita serba kekurangan. Karena sedikit yang kita punya,
mungkin merupakan hal terbesar yang dibutuhkan orang lain.
Kita diajak berpikir untuk merenungkan kembali, sebagai
manusia apa sebenarnya tujuan hidup kita? Memang, seringkali apa yang telah
kita usahakan menuai kegagalan, kebaikan yang kita lakukan dibalas tidak dengan
kebaikan. Lalu mulai berpikir, “Ah berhenti saja jadi orang baik!”, menjadi
egois untuk diri sendiri, untuk apa berbuat baik kalau justru akan menyakiti
hati, kalau yang didapatkan hanya antipati!
Lirik Kita bergerak dan bersuara. Berjalan jauh, tumbuh bersama layaknya
pribahasa “Jika kau ingin berjalan cepat, jalanlah sendiri, tapi jika ingin
berjalan jauh, jalanlah bersama”. menuntun kita bahwa kebahagiaan dan
keberhasilan bukan tercipta dari diri sendiri, ada andil yang kita dapat dari
orang yang kita sayangi, dari orang yang entah dari mana datangnya.
Sempatkan pulang ke beranda dimaknai
sebagai ibadah dan doa kepada Tuhan pencipta kehidupan. Seringkali kita merasa
telah menjadi orang baik, menjadi orang yang telah banyak membantu sesama dan
melupakan dari mana kita berasal. Melupakan andil orang disekitar kita,
melupakan Tuhan, hidup dan kehidupan-Nya, sampai lupa harga hidup yang Tuhan
berikan.
Saat kita kotor, penuh dosa apakah kita
masih tetap bisa memberi?
Saat kita hampir mati(membiru), apakah
kita tetap bisa mengobati-membantu sesama?
Apakah disaat paling buruk sekalipun
kita tetap bisa berguna bagi orang di sekelilig kita?
Apakah kita rela?
Disinilah ‘Tuk mencatat hidup
dan harganya dijawab, dengan pertanyaan, makna hidup untuk memberi
apakah sudah kamu catat? Apakah sudah bisa memaknai bahwa esensi hidup adalah
memberi, bukan kepentingan diri?
Ditimpali dengan Cukup besar
‘tuk mengampuni, ‘Tuk mengasihi, Tanpa memperhitungkan masa yang lalu yang
bermakna bahwa inilah proses hidup untuk menjadi manusia tanpa dendam, memberi
dan terus memberi, tanpa hitungan materi, apapun yang terjadi setelahnya,
apapun yang terlewat sebelumnya.
Walau
kering, Bisakah kita tetap membasuh?
Mem.ba.suh v mencuci(membersihkan)
dengan air
Seni dalam memberi tiu adalah tanpa
berharap kembali
Hal tersebut seperti analogi
Jika kita memberi 1 dan berharap
kembali 1, 1 dibagi 1 = 1,yang kita dapat adalah 1.
Jika kita memberi 1 dan berharap
kembali 2, maka yang kita dapat adalah setengah, disini terkadang kita merasa
kecewa
Namun, apabila kita memberi 1 dan tak
berharap kembali (0), maka yang kita dapat tak terhingga (infinite)
Memberi tanpa berekspektasi adalah
nikmat dan ketenangan bagi diri
Air yang ada di pegunungan, di hulu
tidak disimpan sendiri namun dialirkan ke hilir, mengaliri setiap tumbuhan agar
dapat bermanfaat bagi lingkungan.
Tanpa takut kehabisan air.
Mengering sumurku, Terisi kembali
Bahwa terkadang kita memberi juga
karena kita bisa hidup, kita bisa memberi karena telah menerima pemberian.
Disitulah makna hidup, Kutemukan Makna
hidupku di sini
Teruslah memberi tanpa
hitungan materi, apapun yang terjadi setelahnya, apapun yang terlewat
sebelumnya.
Mungkin tidak bisa ikhlas sepenuhnya,
tapi
مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ
Yang tak dapat kau peroleh semuanya,
jangan kau tinggalkan seluruhnya.
TERIMAKASIH, TERIMAKASIH BANYAK! WHAT A SONG!